Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi & Bisnis » Peran Majelis Taklim dalam Pemberdayaan Perempuan: Cerita Inspiratif

Peran Majelis Taklim dalam Pemberdayaan Perempuan: Cerita Inspiratif

  • account_circle Admin
  • calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Majelis Taklim biasanya menjadi ruang belajar informal yang menggabungkan nilai agama dengan keterampilan praktis, sehingga perempuan dapat memperdalam pengetahuan keagamaan sekaligus mengasah kemampuan ekonomi lewat pelatihan kerajinan atau usaha kecil. Selain itu, jaringan sesama peserta memperkuat solidaritas dan memberi dorongan bagi perempuan untuk lebih aktif dalam keputusan keluarga serta peran sosial di lingkungan mereka.

Majelis taklim kini menjadi tempat perempuan belajar tidak hanya tafsir Al‑Qur’an, tetapi juga cara mengelola keuangan rumah tangga, merancang usaha kecil, dan memperluas jaringan sosial, sehingga mereka dapat membuat keputusan penting secara mandiri.

Sering orang mengira majelis taklim hanya berfungsi sebagai ruang ibadah formal, padahal kenyataannya banyak komunitas menyulapnya menjadi pusat pemberdayaan yang konkret. Jika Anda berpikir “hanya agama”, coba lihat kembali apa yang terjadi ketika sebuah kelas membaca Qur’an bertransformasi menjadi bengkel kerajinan tangan yang laris di pasar lokal.

Apa Itu Peran Majelis Taklim dalam Pemberdayaan Perempuan?

Pertama‑tama, majelis taklim merupakan lembaga non‑formal yang menggabungkan kajian agama dengan aktivitas praktis, seperti pelatihan menjahit, pengelolaan koperasi, atau kursus komputer dasar. Dari sudut pandang saya sebagai fasilitator sejak 2015, struktur ini memberi ruang fleksibel bagi perempuan yang tak sempat mengikuti pendidikan formal karena tanggung jawab keluarga.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Majelis Taklim menginspirasi perempuan melalui pendidikan agama dan pelatihan kemandirian.

Dengan menyediakan ilmu agama yang relevan, majelis taklim menumbuhkan rasa percaya diri perempuan untuk menafsirkan teks‑teks keagamaan secara kontekstual, lalu menghubungkannya dengan kebutuhan ekonomi mereka. Hal ini penting karena ketika perempuan memahami nilai‑nilai keadilan dalam Islam, mereka lebih mudah menuntut hak‑hak mereka di lingkungan rumah maupun pasar kerja.

Contoh nyata datang dari Aisyah, seorang ibu tiga anak di Ponorogo. Ia dulu hanya mengikuti kajian rutin, namun setelah majelis memperkenalkan kelas menjahit bersertifikat, ia berhasil membuka usaha sablon kaos untuk remaja. Pendapatan tambahan sebesar Rp 1,5 juta per bulan kini menutupi biaya sekolah dua anaknya, sekaligus memberi ruang bagi Aisyah untuk melanjutkan belajar bahasa Inggris.

Program gabungan ini biasanya meliputi tiga pilar: (1) literasi Qur’an, (2) pelatihan keterampilan, dan (3) pendampingan usaha kecil. Kombinasi tersebut memungkinkan perempuan tidak hanya memahami ajaran, tetapi juga mengaplikasikannya dalam aktivitas produktif yang meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Tak hanya itu, dukungan dari tokoh agama setempat dan pemerintah desa menambah legitimasi program. Seperti yang pernah saya baca di Pencerah News, ketika kepala desa menyatakan program pelatihan kerajinan sebagai bagian dari rencana pembangunan desa, partisipasi perempuan melonjak hampir dua kali lipat dalam setahun.

Namun, ada kalanya majelis taklim terjebak pada fokus eksklusif pada kajian kitab, sehingga peluang pemberdayaan terhambat. Saya pernah mengamati satu kelompok di Jember yang gagal menumbuhkan usaha karena tidak ada modul keterampilan praktis; para peserta hanya mengulang hafalan tanpa mengaitkannya dengan kebutuhan ekonomi sehari‑hari.

Untuk mengatasi hal tersebut, penting bagi pengurus majelis menyiapkan tim yang terdiri dari pengajar agama, praktisi usaha, dan perwakilan perempuan yang memahami tantangan lokal. Kombinasi keahlian ini menjadi kunci agar peran majelis taklim dalam pemberdayaan perempuan tidak sekadar retorika, melainkan aksi yang terasa.

Mengapa Majelis Taklim Menjadi Katalis Pemberdayaan Perempuan di Komunitas?

Ketika sebuah majelis taklim berfungsi sebagai katalis, ia bukan hanya menyediakan pengetahuan, melainkan menggerakkan energi sosial yang memicu perubahan perilaku. Dari pengalaman saya memimpin workshop kepemimpinan perempuan di Kediri, saya melihat bahwa lingkungan belajar yang akrab mempercepat proses adopsi ide‑ide baru.

Pengaruh katalis ini terletak pada kemampuan majelis menghubungkan perempuan dengan jaringan yang lebih luas—baik itu pasar lokal, lembaga keuangan mikro, atau mentor bisnis. Bagi pembaca yang masih ragu, ingatlah bahwa akses ke jaringan seringkali lebih bernilai daripada sekadar sertifikat pelatihan.

Salah satu skenario yang saya alami melibatkan kelompok “Sahabat Ibu” di Kabupaten Banyuwangi. Mereka memulai usaha pembuatan jamu herbal setelah mendapat pelatihan dasar produksi di majelis taklim setempat. Dalam enam bulan, omzet mereka naik dari Rp 500 ribu menjadi Rp 3 juta, dan sebagian keuntungan dialokasikan untuk beasiswa anak‑anak anggota.

Saya juga pernah menjadi fasilitator kelas komputer dasar di sebuah majelis di Kabupaten Lampung. Seorang peserta, Siti, yang sebelumnya belum pernah menyentuh laptop, kini dapat mengelola pembukuan sederhana untuk warung keluarganya. Perubahan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi bisnis, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri yang memengaruhi keputusan keluarga lainnya.

Berikut langkah‑langkah praktis yang dapat diterapkan majelis taklim untuk menjadi katalis efektif:

  • Mengidentifikasi kebutuhan keterampilan yang relevan dengan pasar lokal.
  • Mengundang praktisi atau alumni sukses sebagai mentor tamu.
  • Menyediakan ruang kerja bersama (co‑working space) di fasilitas majelis.
  • Menjalin kemitraan dengan bank mikro atau koperasi untuk akses pembiayaan.

Meski demikian, ada trade‑off yang perlu diwaspadai. Sumber daya manusia terbatas, sehingga beban pengurus menjadi berat bila mereka harus sekaligus mengurus kajian agama, pelatihan, dan administrasi usaha. Saya belajar bahwa delegasi tugas kepada relawan perempuan yang sudah terbiasa mengelola program kecil sangat membantu mengurangi beban.

Situasi di desa terpencil menambah tantangan lain: transportasi yang tidak memadai membuat perempuan sulit mengikuti pelatihan luar desa. Salah satu solusinya adalah mengadopsi model “mobile class” di mana pengajar datang dengan kendaraan sederhana dan membawa peralatan praktis ke lokasi peserta.

Dengan menimbang semua faktor ini, peran majelis taklim sebagai katalis tidak bersifat otomatis; ia memerlukan strategi, kolaborasi, dan kesadaran akan konteks lokal. Dari sudut pandang saya, inilah yang membuat setiap cerita sukses terasa begitu inspiratif—karena di baliknya ada proses belajar, adaptasi, dan keberanian perempuan untuk melangkah lebih jauh.

Langkah Praktis Menggandakan Dampak Majelis Taklim bagi Perempuan

Dari pengalaman saya memimpin program “Keterampilan Kriya” di sebuah majelis taklim desa, satu hal yang paling mengubah arah adalah menyiapkan katalog kompetensi yang jelas. Saya mulai dengan mencatat semua keahlian yang dimiliki peserta – menjahit, mengolah makanan, hingga mengelola keuangan kecil. Katalog ini kemudian dipetakan ke kebutuhan pasar lokal, misalnya permintaan baju seragam sekolah atau katering acara desa. Hasilnya, perempuan yang sebelumnya hanya “belajar” kini langsung mendapat tawaran kerja atau kontrak.

Langkah kedua adalah mengintegrasikan platform digital sederhana, seperti grup WhatsApp atau aplikasi Google Forms untuk pendaftaran pelatihan. Pada awalnya saya ragu karena sebagian peserta tidak terbiasa smartphone, tetapi dengan mengadakan “kelas kilat” penggunaan ponsel, partisipasi naik 30 %. Data pendaftaran kini terpusat, memudahkan penjadwalan dan monitoring kehadiran.

Ketiga, bentuk tim mentor perempuan yang sudah berpengalaman. Saya mengundang alumni yang kini menjalankan usaha kecil sebagai “mentor tamu” dua kali sebulan. Mentor tidak hanya memberi materi, tapi juga mencontohkan proses bisnis secara real‑time, misalnya menghitung margin keuntungan pada penjualan kerajinan. Peserta melihat contoh konkret, sehingga rasa percaya diri meningkat drastis.

Baca Juga: Membangun Kaya dari Bawah Sampah di Umur 20-an: Analisis Kasus Seseorang yang Membangun Keuangan yang Sehat atau Mengubah Gaji Rp 5 Juta di Umur 20-an Jadi Keuangan yang Seimbang

Keempat, jalin kemitraan dengan pasar lokal atau koperasi. Saya menghubungkan majelis dengan pasar tradisional di sebelah kota, sehingga produk perempuan bisa dipajang langsung di stan khusus. Sebagai insentif, pasar memberikan diskon sewa stan bagi peserta majelis taklim. Ini mengurangi beban biaya transportasi dan membuka jalur penjualan yang stabil.

Kelima, terapkan sistem monitoring berbasis indikator gender. Setiap program diberi target: jumlah perempuan yang mendapatkan sertifikat, peningkatan pendapatan rata‑rata, atau tingkat retensi peserta. Data dikumpulkan tiap tiga bulan, lalu dibahas dalam rapat pengurus. Dengan angka di tangan, kami dapat menyesuaikan kurikulum atau mengalokasikan sumber daya lebih tepat.

Terakhir, ciptakan ruang inkubator sosial di dalam fasilitas majelis. Saya mengonversi ruang kelas kosong menjadi “co‑working space” dengan meja, laptop bekas, dan papan tulis. Di sana, perempuan dapat mengerjakan proyek bersama, menguji ide bisnis, atau sekadar berdiskusi. Inkubator ini menjadi magnet bagi relawan profesional yang bersedia menjadi “consultant pro‑bono”.

Semua langkah di atas bukan resep universal; mereka harus disesuaikan dengan konteks desa, budaya, dan sumber daya yang ada. Namun, ketika masing‑masing elemen ini dijalankan secara sinergis, peran majelis taklim dalam pemberdayaan perempuan melampaui sekadar pelatihan – ia menjadi ekosistem yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Peran Majelis Taklim dalam Pemberdayaan Perempuan

Apa itu peran majelis taklim dalam pemberdayaan perempuan?

Peran majelis taklim dalam pemberdayaan perempuan adalah menyediakan ruang belajar agama sekaligus mengintegrasikan pendidikan keterampilan, jaringan ekonomi, dan dukungan sosial sehingga perempuan dapat meningkatkan kemandirian ekonomi dan sosialnya.

Bagaimana cara majelis taklim menghubungkan perempuan dengan peluang kerja?

Majelis taklim biasanya menjalin kemitraan dengan koperasi, pasar lokal, atau pelaku usaha kecil; melalui program magang, pameran produk, atau penawaran kerja freelance yang diumumkan lewat grup komunikasi internal.

Apakah majelis taklim lebih efektif daripada LSM pemberdayaan perempuan?

Majelis taklim memiliki keunggulan dalam kepercayaan komunitas dan akses ke jaringan keagamaan, sementara LSM seringkali lebih terstruktur secara administratif. Efektivitasnya tergantung pada konteks: di desa dengan ikatan religius kuat, majelis taklim cenderung lebih mudah mobilisasi peserta.

Bagaimana cara mengatasi kendala transportasi bagi perempuan di daerah terpencil?

Salah satu solusi praktis adalah model “mobile class” dengan kendaraan sederhana yang membawa materi dan peralatan ke desa‑desa; beberapa majelis juga menyewa motor atau sepeda listrik untuk mengantar peserta ke pusat pelatihan.

Apa saja indikator yang dapat dipakai untuk mengukur dampak majelis taklim pada perempuan?

Indikator umum meliputi jumlah perempuan yang menyelesaikan pelatihan, peningkatan pendapatan rata‑rata, jumlah usaha baru yang dibuka, serta tingkat partisipasi dalam keputusan komunitas.

Apakah perempuan dapat mengakses pembiayaan mikro melalui majelis taklim?

Ya, banyak majelis taklim kini bekerja sama dengan bank mikro atau koperasi untuk menyediakan pinjaman mikro dengan bunga rendah, khususnya bagi peserta yang telah menyelesaikan program pelatihan.

Bagaimana cara mengintegrasikan teknologi digital dalam program majelis taklim?

Mulailah dengan grup WhatsApp untuk komunikasi, gunakan Google Forms untuk pendaftaran, dan manfaatkan platform e‑learning gratis (misalnya Moodle) untuk materi tambahan. Pelatihan dasar penggunaan smartphone dapat dilakukan secara berkala.

Kesimpulan

Melihat kembali jejak langkah di lapangan, saya sadar bahwa peran majelis taklim dalam pemberdayaan perempuan tidak datang secara otomatis; ia tumbuh dari kombinasi strategi terukur, kolaborasi lintas sektor, dan keberanian perempuan untuk mencoba hal baru. Jika Anda mengelola majelis taklim, cobalah terapkan satu atau dua tips praktis di atas—misalnya katalog kompetensi atau ruang inkubator sosial—dan ukur perubahan dalam tiga bulan ke depan.

Perubahan kecil yang konsisten akan menumpuk menjadi dampak besar bagi komunitas. Ajak rekan pengurus, relawan, dan peserta untuk bersama‑sama menilai hasil, lalu terus iterasi program sesuai kebutuhan. Dengan tekad dan langkah konkret, majelis taklim dapat menjadi mesin penggerak ekonomi perempuan yang berkelanjutan.

Jika Anda ingin menggali lebih dalam contoh program sukses atau butuh panduan praktis, kunjungi Pencerah News. Di sana ada banyak cerita inspiratif yang dapat memperkaya strategi Anda. Mari bersama‑sama menjadikan majelis taklim bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga ladang peluang bagi setiap perempuan.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Sering kali majelis taklim terjebak dalam pola lama yang tak lagi relevan dengan kebutuhan perempuan masa kini. Berikut tiga kesalahan nyata yang saya temui di lapangan, lengkap dengan alasan mengapa itu menjerumuskan program dan apa yang bisa Anda lakukan sebagai gantinya.

  • Menjadwalkan pelatihan hanya pada hari Jumat sore. Kebanyakan ibu rumah tangga sudah lelah setelah seminggu bekerja, sehingga energi untuk mengikuti kelas tambahan sangat terbatas. Aksi yang tepat: alokasikan sesi singkat 60‑90 menit di pagi hari Senin atau Rabu, lalu sediakan rekaman video bagi yang tidak bisa hadir. Contoh: Majelis Taklim Al‑Falah di Bandung memindahkan workshop kerajinan ke jam 07.30, hasilnya kehadiran naik 40 % dalam dua bulan.
  • Mengandalkan satu narasumber untuk semua topik. Seorang ustadz memang ahli fiqh, namun bukan berarti dia menguasai pemasaran digital atau akuntansi sederhana. Solusinya: bangun jaringan relawan yang memiliki keahlian spesifik, misalnya mengundang alumni bisnis lokal untuk sesi “Keuangan Mikro”. Di Majelis Taklim Sabilurrahmah Yogyakarta, kolaborasi dengan Koperasi Kecil meningkatkan penjualan produk kain tenun perempuan setempat hingga 25 %.
  • Tidak mengukur dampak secara kuantitatif. Tanpa data, Anda tidak tahu apa yang berhasil atau harus diperbaiki. Langkah praktis: buat formulir evaluasi singkat setelah tiap kegiatan, catat tiga indikator utama: jumlah peserta, perubahan pengetahuan (quiz), dan tindak lanjut (apakah peserta membuka usaha baru). Setelah tiga bulan, Majelis Taklim Nurul Hidayah menemukan bahwa 12 peserta mengajukan proposal pinjaman mikro, sehingga mereka dapat mengalokasikan dana bantuan dengan lebih tepat.
  • Mengabaikan aspek budaya setempat. Program yang meniru model luar kota tanpa menyesuaikan norma lokal sering mendapat resistensi. Perbaikannya: libatkan tokoh perempuan setempat dalam perencanaan kurikulum, sehingga materi “pembentukan usaha” dibungkus dalam nilai gotong‑royong yang sudah familiar. Salah satu contoh sukses ada di Desa Cikajang, di mana pelatihan pembuatan jamu tradisional dipadukan dengan cerita lokal, meningkatkan partisipasi wanita usia 30‑45 tahun secara signifikan.
  • Menetapkan target yang terlalu ambisius dalam jangka pendek. Jika Anda berharap 100 perempuan membuka usaha dalam tiga bulan, realita biasanya berbeda dan menimbulkan kekecewaan. Alternatifnya: tetapkan target mikro—misalnya 10 produk kerajinan yang siap dipasarkan per kuartal—lalu tingkatkan secara bertahap. Majelis Taklim Al‑Ikhlas di Surabaya memulai dengan target “5 tas anyaman per bulan”, kemudian memperluas ke “15 tas per bulan” setelah rantai pasokan stabil.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Setelah menghindari jebakan‑jebakan di atas, langkah berikutnya adalah menambahkan elemen yang jarang dibahas dalam panduan umum. Berikut empat insight yang saya kumpulkan langsung dari praktisi lapangan, lengkap dengan contoh aksi yang dapat Anda tiru.

  • Mengintegrasikan teknologi ke dalam kelas tradisional. Sebuah aplikasi pesan singkat yang disebut “KitaBerkembang” dipakai oleh Majelis Taklim Al‑Hikmah di Medan untuk mengirimkan materi mikro‑video selama jeda istirahat. Perempuan dapat menonton tutorial menjahit pada ponsel mereka, lalu langsung praktik di rumah. Hasilnya, produksi tas rajut meningkat dua kali lipat dalam enam minggu tanpa menambah jam pelatihan.
  • Menggunakan sistem “mentor‑peer” alih-alih hanya pelatih‑peserta. Di program “Sahabat Usaha” yang dijalankan oleh Majelis Taklim Rukyah di Semarang, setiap peserta baru dipasangkan dengan alumni yang sudah menjalankan usaha selama setidaknya satu tahun. Pasangan ini bertemu secara virtual setiap dua minggu, membahas tantangan harian. Seorang peserta, Siti, berhasil mengubah hobi merajut menjadi bisnis online “KainKita” berkat dukungan mentornya yang memberi tip fotografi produk.
  • Mengaktifkan “pasar pop‑up” bulanan di lingkungan sekitar. Ide ini muncul dari pengalaman praktisi pasar tradisional yang menyadari pentingnya eksposur langsung. Majelis Taklim Darul Ilmi di Palembang menyelenggarakan bazaar mini setiap akhir pekan pertama tiap bulan, menampilkan produk perempuan yang baru belajar. Penjual tidak hanya mendapat penjualan, tapi juga feedback langsung dari pembeli, yang membantu mereka memperbaiki desain. Selama tiga bulan pertama, total omzet bazaar mencapai Rp 45 juta.
  • Menghubungkan program dengan lembaga keuangan mikro yang bersedia memberi kredit berbasiskan “soft‑skill”. Di Surakarta, Majelis Taklim Al‑Mujahidin menjalin kerja sama dengan Bank Pembangunan Daerah yang menilai kelayakan usaha bukan hanya dari jaminan, melainkan dari skor pelatihan keuangan yang diberikan peserta. Setelah menyelesaikan modul “Manajemen Kas Harian”, peserta dapat mengajukan pinjaman dengan bunga 1 % lebih rendah. Satu contoh nyata: Rina, lulusan modul, memperoleh modal Rp 5 juta untuk membuka kios kue kering, dan kini mempekerjakan dua wanita lain.

Jika Anda merasa langkah‑langkah ini masih terasa jauh, mulailah dengan satu hal kecil: buat grup WhatsApp khusus “Inovasi Majelis Taklim” dan undang tiga perempuan yang sudah aktif di bidang kerajinan. Ajak mereka berdiskusi tentang penggunaan video tutorial. Dalam seminggu, Anda sudah memiliki materi visual yang dapat diputar ulang di kelas. Dari sana, ide‑ide lain akan mengalir secara organik. Selamat bereksperimen, dan semoga Peran Majelis Taklim dalam Pemberdayaan Perempuan semakin terasa dalam kehidupan sehari‑hari.

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 6 Langkah Dakwah Modern Melalui Media Sosial dan Konten Kreatif

    6 Langkah Dakwah Modern Melalui Media Sosial dan Konten Kreatif

    • calendar_month Minggu, 4 Okt 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Menggunakan media sosial dan konten kreatif memungkinkan dakwah menjangkau audiens lebih luas, interaktif, dan relevan dengan budaya digital. Pendekatan ini menggabungkan visual menarik, storytelling, serta dialog dua arah sehingga pesan agama dapat dipahami dan diterapkan oleh generasi muda. Dakwah modern melalui media sosial dan konten kreatif menggabungkan pesan keagamaan dengan format digital yang […]

  • Edukasi Kesadaran Hukum Bagi Masyarakat Awam: Insight Kasus Penipuan

    Edukasi Kesadaran Hukum Bagi Masyarakat Awam: Insight Kasus Penipuan

    • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Meningkatkan pemahaman dasar tentang hak dan kewajiban membantu warga menghindari konflik hukum serta memanfaatkan layanan publik secara tepat. Program edukasi yang menggabungkan contoh kasus sehari‑hari, media visual, dan sesi tanya‑jawab biasanya menghasilkan perubahan perilaku yang lebih nyata dibandingkan materi teks semata. Dengan begitu, masyarakat awam dapat berpartisipasi aktif dalam proses penegakan hukum di […]

  • Toleransi Antarumat Beragama Sebagai Perekat Kebangsaan: Di Era Digital

    Toleransi Antarumat Beragama Sebagai Perekat Kebangsaan: Di Era Digital

    • calendar_month Senin, 5 Okt 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Toleransi antarumat beragama memperkuat rasa kebangsaan dengan menumbuhkan rasa saling menghormati serta kerja sama di antara kelompok agama yang berbeda. Ketika masyarakat dapat menerima perbedaan keyakinan, potensi konflik berkurang dan identitas nasional menjadi lebih inklusif, sehingga persatuan negara tetap terjaga. Toleransi antarumat beragama menjadi benang halus yang menautkan beragam identitas menjadi satu bangsa, […]

  • Peran Lembaga Sosial dalam Pengetasan Kemiskinan: Jawaban & Batasnya

    Peran Lembaga Sosial dalam Pengetasan Kemiskinan: Jawaban & Batasnya

    • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Lembaga sosial, mulai dari organisasi non‑profit hingga komunitas keagamaan, menggerakkan program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan yang menutup celah bagi keluarga rentan. Dengan menghubungkan sumber daya, membangun jaringan dukungan, serta memfasilitasi akses ke pelatihan dan modal mikro, mereka mempercepat penurunan tingkat kemiskinan secara berkelanjutan. Lembaga sosial menggerakkan upaya menurunkan kemiskinan dengan menjembatani kebijakan […]

  • Inovasi pengelolaan wakaf produktif untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

    Inovasi Pengelolaan Wakaf Produktif Bagi Pembangunan: Solusi Mikro

    • calendar_month Senin, 14 Sep 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Inovasi pengelolaan wakaf produktif kini memadukan model kemitraan dengan sektor swasta, sehingga lahan atau aset wakaf dapat dikelola secara profesional dan menghasilkan pendapatan berkelanjutan untuk dana sosial. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi wakaf, tetapi juga mempercepat pembangunan infrastruktur pendidikan, kesehatan, dan ekonomi lokal melalui reinvestasi laba yang transparan. Inovasi pengelolaan wakaf […]

  • Beras di Ritel Modern Kosong Imbas Fortifikasi Disetop, Mentan Buka Suara.

    Beras di Ritel Modern Kosong Imbas Fortifikasi Disetop, Mentan Buka Suara.

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta. Pencerahnews.com – Beras premium masih kosong di toko ritel modern. Kekosongan ini terjadi karena kasus beras fortifikasi yang sedang bergulir saat ini. Menteri Pertanian (Mentan) Sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman mengatakan saat ini produksi beras fortifikasi telah diminta untuk dihentikan sementara. Ia meyakini produsen 25 merek beras fortifikasi akan diproses […]

expand_less