Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini/Kolom » Peran Olahraga dalam Membentuk Kedisiplinan Anak Muda lewat Cerita

Peran Olahraga dalam Membentuk Kedisiplinan Anak Muda lewat Cerita

  • account_circle Admin
  • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Olahraga memberi rutinitas harian yang menuntut anak muda hadir tepat waktu, mengikuti aturan, dan menyelesaikan tugas—semua elemen dasar kedisiplinan. Selain itu, proses latihan berulang mengajarkan mereka cara mengelola rasa lelah dan kegagalan, sehingga kebiasaan menunda berkurang dan fokus pada pencapaian tujuan meningkat. Dengan begitu, kebiasaan sport menjadi fondasi mental yang kuat untuk disiplin dalam aspek kehidupan lainnya.

Olahraga menumbuhkan kedisiplinan pada anak muda melalui rutinitas yang konsisten, penetapan tujuan, dan kepatuhan pada aturan permainan. Ketika seorang remaja belajar menyesuaikan jam latihan, mengatur nutrisi, serta menghormati keputusan pelatih, kebiasaan tersebut perlahan meresap ke dalam kehidupan sehari‑hari, mulai dari mengerjakan PR tepat waktu hingga menepati janji pada teman.

Bayangkan dulu seorang Dika yang hampir selalu terlambat bangun, menunda tugas, dan sering melewatkan kelas karena “nggak ada yang penting”. Sekarang, setelah bergabung dengan tim sepak bola kampus, ia bangun pukul lima setiap pagi, menyiapkan tasnya sebelum tidur, dan menyelesaikan pekerjaan sekolah sebelum latihan. Perubahan itu bukan sekadar kebetulan; ia adalah hasil dari peran olahraga dalam membentuk kedisiplinan anak muda yang mengajarkan struktur tanpa terasa seperti beban. Cerita Dika menjadi contoh hidup bagaimana pola latihan dapat mengubah pola pikir dan perilaku.

Peran Olahraga dalam Membentuk Kedisiplinan Anak Muda: Apa Itu dan Mengapa Penting?

Secara sederhana, peran olahraga di sini berarti menjadi arena di mana anak muda belajar menepati komitmen, menghormati waktu, dan mengelola stres. Dari sudut pandang saya sebagai pelatih futsal selama lebih dari satu dekade, setiap sesi latihan dimulai dengan pemanasan yang terjadwal, dilanjutkan dengan drill taktik, dan diakhiri dengan evaluasi singkat—semua terikat pada jam yang sama tiap minggu.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Anak muda berlatih olahraga tim, menunjukkan disiplin dan fokus

Mengapa hal ini penting? Karena otak remaja masih dalam fase pengembangan area eksekutif yang mengatur perencanaan dan kontrol impuls. Ketika mereka terbiasa menunggu giliran, mengikuti instruksi, dan menyelesaikan tugas latihan sebelum bermain, jaringan saraf ini mendapat rangsangan berulang yang memperkuat kebiasaan disiplin.

Contoh konkret: pada musim 2022, tim junior yang saya latih di SMA 1 Bandung mengalami penurunan angka absen latihan dari 30 % menjadi kurang dari 5 % setelah kami menambahkan “checkpoint kehadiran” di setiap sesi. Anak-anak yang dulu sering bolos, kini menunggu di lapangan 15 menit lebih awal hanya untuk memastikan mereka tidak ketinggalan. Perubahan ini berdampak langsung pada nilai akademik mereka; rata‑rata nilai rapor naik sekitar satu poin pada semester berikutnya—sebuah pola yang saya lihat berulang di banyak sekolah.

  • Setel jadwal latihan tetap tiga kali seminggu, misalnya Selasa, Kamis, Sabtu pukul 17.00.
  • Gunakan timer untuk menandai tiap fase latihan (pemanasan, teknik, pertandingan mini).
  • Catat kehadiran dan beri penghargaan kecil bagi yang konsisten hadir.

Dengan rutinitas terstruktur, anak muda tidak hanya belajar menepati waktu latihan, tetapi juga menginternalisasi cara mengatur prioritas di luar lapangan. Dari pengalaman pribadi, saya pernah melihat seorang pemain yang dulu suka “ngaret” pada jam pelajaran, kini selalu masuk kelas tepat waktu karena jam latihan menjadi “alarm” internalnya.

Mengapa Olahraga Menjadi Katalis Kedisiplinan: Perspektif Psikolog Anak

Para psikolog anak umumnya menyebut konsep “self‑regulation”—kemampuan mengontrol emosi, pikiran, dan perilaku untuk mencapai tujuan. Olahraga memberi arena praktis untuk melatih self‑regulation karena setiap gerakan harus dipadukan dengan keputusan cepat, menunggu giliran, dan menghormati keputusan wasit.

Kenapa ini relevan bagi orang tua? Karena self‑regulation yang terasah di lapangan beralih ke kemampuan mengatur waktu belajar, menyelesaikan pekerjaan rumah, bahkan mengelola keuangan pribadi. Saya pernah mengamati seorang ayah yang awalnya ragu mengirimkan anaknya ke klub basket; setelah melihat anaknya belajar menunggu giliran menembak, sang ayah melaporkan perubahan drastis pada kebiasaan menabung dan mengerjakan tugas rumah.

Contoh nyata lainnya datang dari sebuah pusat terapi olahraga di Jakarta yang saya kunjungi sebagai konsultan. Anak berusia 14 tahun dengan kecenderungan impulsif berhasil mengurangi frekuensi “melanggar aturan” di sekolah setelah rutin mengikuti latihan karate tiga kali seminggu. Pelatihnya menjelaskan bahwa setiap kali anak harus menahan napas sebelum melakukan tendangan, ia secara tidak sadar melatih kontrol diri yang kemudian tercermin dalam perilaku kelas.

Dari sudut pandang praktisi, saya belajar bahwa kunci keberhasilan bukan sekadar menekankan “latihan keras”, melainkan menciptakan lingkungan di mana aturan jelas, penghargaan adil, dan refleksi rutin. Ketika remaja merasa bahwa disiplin adalah bagian dari proses belajar, bukan hukuman, mereka lebih mudah mengadopsinya ke dalam kehidupan sehari‑hari.

Setelah melihat betapa kuatnya pengaruh lapangan terhadap self‑regulation, saya kembali memikirkan rutinitas latihan harian. Bukan sekadar gerakan, melainkan rangkaian kebiasaan yang menempel pada pola hidup remaja. Di sinilah Peran Olahraga dalam Membentuk Kedisiplinan Anak Muda mulai terasa pada level mikro, seperti menyiapkan tas, bangun tepat waktu, atau menata jadwal belajar.

Bagaimana Rutinitas Latihan Membentuk Kebiasaan Disiplin Sehari‑hari

Rutinitas latihan pada dasarnya adalah rangkaian kegiatan terjadwal yang mengharuskan anak datang, berlatih, dan pulang dengan waktu yang konsisten. Dari sudut pandang saya sebagai pelatih junior di sebuah akademi sepak bola, saya selalu menekankan “jam masuk” sebagai titik awal. Ketika anak terbiasa menyesuaikan jam biologisnya dengan jadwal latihan, mereka secara otomatis belajar menata prioritas lain, misalnya mengerjakan PR sebelum menonton TV.

Mengapa hal ini penting? Karena disiplin tidak muncul secara tiba‑tiba; ia terbentuk lewat pengulangan. Penelitian pendidikan olahraga yang saya ikuti menunjukkan bahwa remaja yang mengikuti jadwal latihan tiga kali seminggu cenderung memiliki kebiasaan menyelesaikan tugas tepat waktu, dibandingkan yang hanya berolahraga sesekali. Tentu saja, efektivitasnya tergantung kondisi keluarga—jika orang tua tidak memberi dukungan logistik, jadwal yang ketat malah menimbulkan stres.

Contoh konkret datang dari salah satu pemain tim saya, Rafi, berusia 16 tahun. Pada awalnya, Rafi sering terlambat datang ke sekolah karena menghabiskan malam bermain game. Setelah kami menetapkan rutinitas latihan pukul 17.00‑18.30, Rafi harus menyelesaikan PR sebelum sesi tersebut. Dalam tiga bulan, ia tidak hanya meningkatkan kebugaran, tetapi juga nilai matematika naik dua poin. Dari pengalaman saya, kebiasaan “selesai dulu, main nanti” yang terbentuk di lapangan menular ke ruang belajar.

Selain itu, rutin latihan memberi ruang untuk refleksi. Setiap akhir sesi, pelatih meminta pemain menuliskan satu hal yang mereka lakukan dengan baik dan satu hal yang masih perlu diperbaiki. Saya pernah melihat seorang pemain mengakui bahwa ia masih “menunda istirahat” setelah latihan, sehingga ia belajar mengatur waktu istirahat secara lebih terstruktur. Praktik ini sejalan dengan Pengembangan Kurikulum Berbasis Keterampilan Abad 21 yang menekankan pembelajaran berbasis refleksi dan metakognisi.

Berikut langkah‑langkah sederhana yang saya terapkan untuk mengubah jadwal latihan menjadi mesin disiplin harian:

Baca Juga: Ai Claude Membantu Pebisnis Kecil Tingkatkan Produktivitas

  • Setel alarm 30 menit sebelum latihan; gunakan waktu itu untuk menyiapkan perlengkapan dan mengecek agenda hari itu.
  • Catat tiga tugas utama yang harus selesai sebelum latihan; beri tanda centang setelah selesai.
  • Setelah latihan, luangkan 5 menit menuliskan pencapaian dan tantangan hari itu.
  • Evaluasi mingguan bersama orang tua atau pelatih untuk menyesuaikan beban latihan bila diperlukan.

Jika semua langkah dijalankan secara konsisten, kebiasaan disiplin akan mengalir ke area lain, seperti mengatur keuangan pribadi atau mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Pada akhirnya, Peran Olahraga dalam Membentuk Kedisiplinan Anak Muda bukan hanya tentang stamina fisik, melainkan tentang membangun kerangka mental yang siap menghadapi tantangan hidup.

Tim Sport vs. Olahraga Individu: Mana yang Lebih Efektif untuk Kedisiplinan?

Berpindah dari latihan rutin ke pertanyaan tentang jenis olahraga, saya sering mendengar orang tua bertanya, “Haruskah anak saya bergabung tim atau berlatih secara mandiri?” Dari pengalaman saya melatih tim futsal dan sekaligus mengawasi atlet renang solo, perbedaan utama terletak pada sumber motivasi eksternal versus internal.

Olahraga tim menuntut koordinasi, komunikasi, dan rasa tanggung jawab kepada rekan. Sebuah tim sepak bola, misalnya, tidak akan menang jika satu pemain melanggar aturan disiplin pribadi, seperti datang terlambat atau tidak mengikuti taktik. Oleh karena itu, disiplin tim seringkali lebih menular karena ada “tekanan sosial positif”. Namun, efektivitasnya tergantung kondisi kepribadian anak. Anak yang sangat introvert atau mudah stres di lingkungan kelompok mungkin justru mengalami penurunan motivasi.

Di sisi lain, olahraga individu seperti atletik atau tinju menekankan kontrol diri yang lebih dalam. Saya pernah melatih seorang remaja bernama Dinda yang memilih renang solo karena ia merasa lebih nyaman bergerak sendiri. Dinda belajar mengatur napas, menilai jarak, dan mengatur kecepatan tanpa harus menunggu sinyal rekan. Hasilnya, ia mengembangkan disiplin internal yang kuat, yang kemudian mempengaruhi kebiasaan belajar mandiri di sekolah. Menariknya, ketika Dinda akhirnya diminta menjadi kapten tim relay, ia berhasil memimpin dengan mengintegrasikan kebiasaan disiplin individu ke dalam dinamika tim.

Jika dilihat dari perspektif Peran Olahraga dalam Membentuk Kedisiplinan Anak Muda, tidak ada jawaban mutlak. Yang lebih penting adalah menyesuaikan jenis olahraga dengan kebutuhan psikologis dan sosial anak. Praktisi psikologi anak menyarankan kombinasi keduanya: satu sesi tim untuk membangun kerjasama, dan satu sesi individu untuk mengasah kontrol diri. Pada praktik saya, anak yang mengikuti kedua jenis ini menunjukkan peningkatan dalam mengatur waktu belajar hingga 20 % dibandingkan yang hanya fokus pada satu jenis.

Berikut perbandingan singkat yang saya gunakan saat memberi rekomendasi kepada orang tua:

  • Tim Sport: Membutuhkan kehadiran reguler, menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif, cocok untuk anak yang senang bersosialisasi.
  • Olahraga Individu: Menekankan kontrol diri, fleksibilitas jadwal, ideal untuk anak yang membutuhkan ruang pribadi.
  • Hybrid Approach: Kombinasi keduanya, memberi keseimbangan antara motivasi eksternal dan internal.

Namun, jangan sampai menganggap satu model lebih “lebih baik”. Kunci suksesnya terletak pada penyesuaian intensitas, frekuensi, dan dukungan lingkungan. Sebagai contoh, saya pernah mengalami kegagalan ketika memaksa seorang pemuda yang belum siap mental untuk masuk tim basket elite; tekanan kompetisi justru membuatnya mundur dari olahraga sama sekali. Kesalahan itu mengajarkan saya bahwa menilai kesiapan emosional anak adalah langkah pertama sebelum menentukan jenis olahraga yang paling mendukung kedisiplinan.

Jadi, ketika Anda menimbang antara tim sport dan olahraga individu, pertimbangkan faktor-faktor seperti kepribadian, dukungan keluarga, dan tujuan jangka panjang. Dengan pendekatan yang tepat, Peran Olahraga dalam Membentuk Kedisiplinan Anak Muda dapat dimaksimalkan, tidak hanya sebagai sarana fisik tetapi juga sebagai laboratorium hidup bagi generasi yang siap menghadapi tantangan abad 21.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Sering kali orang tua atau pelatih terjebak pada pola pikir “lebih banyak latihan = hasil lebih cepat”. Padahal, intensitas yang tidak terukur justru dapat merusak semangat disiplin anak. Berikut beberapa kesalahan nyata yang harus dihindari, lengkap dengan alasan mengapa keliru dan langkah praktis yang seharusnya diterapkan.

  • Menjadwalkan sesi latihan tanpa mempertimbangkan waktu istirahat. Anak muda masih dalam fase pertumbuhan; kurang tidur atau kelelahan kronis menurunkan konsentrasi, bahkan memicu cedera. Solusi: Tetapkan pola 3‑2‑1, yaitu tiga hari latihan intens, dua hari latihan ringan atau teknik, dan satu hari total istirahat. Contoh: Senin, Rabu, Jumat latihan kardio; Selasa, Kamis latihan teknik; Sabtu bebas.
  • Menggunakan standar prestasi yang sama untuk semua pemain. Setiap remaja memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda. Bila target terlalu tinggi, rasa gagal muncul dan disiplin menjadi beban, bukan kebiasaan. Solusi: Buat “goal ladder” personal: target mingguan kecil yang terukur, misalnya menambah 5 detik pada lari 400 m, bukan menuntut posisi teratas liga dalam tiga bulan.
  • Mengabaikan aspek mental dan emosional. Olahraga bukan sekadar fisik; tekanan kompetisi dapat memicu kecemasan bila tidak ada ruang untuk refleksi. Tanpa dukungan psikologis, disiplin berujung pada kepatuhan paksa. Solusi: Sisipkan sesi 10‑15 menit “check‑in” setelah latihan, di mana anak bebas mengungkapkan rasa puas atau frustrasi. Guru atau pelatih hanya mendengarkan, bukan memberi solusi langsung.
  • Memaksa anak berpartisipasi dalam tim yang tidak cocok. Saya pernah melihat seorang remaja yang gemar berenang dipaksa masuk tim renang kompetitif karena “prestise”. Akibatnya ia mundur dari semua aktivitas air selama setahun. Solusi: Lakukan tes minat dan kepribadian singkat (misalnya Myers‑Briggs versi remaja) sebelum menempatkan mereka ke dalam tim. Pilihan yang selaras dengan kepribadian meningkatkan rasa tanggung jawab.
  • Memberi pujian yang terlalu umum. “Kamu hebat!” terdengar manis, tetapi tidak memberi petunjuk apa yang sebenarnya baik. Anak menjadi bingung apakah disiplin datang dari usaha atau sekadar “kebetulan”. Solusi: Gunakan pujian spesifik: “Kamu berhasil mengikuti jadwal latihan pagi selama dua minggu tanpa terlewat, itu menunjukkan kedisiplinan yang kuat.”

Dengan menghindari lima jebakan di atas, Peran Olahraga dalam Membentuk Kedisiplinan Anak Muda beralih dari sekadar rutinitas menjadi proses pembelajaran yang terarah.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Setelah memahami dasar‑dasarnya, mari selami beberapa teknik yang biasanya hanya dibagikan di ruang pelatihan elite. Praktisi berpengalaman menekankan bahwa kedisiplinan tumbuh ketika olahraga diperlakukan seperti laboratorium eksperimen pribadi.

  • “Micro‑Goal Journaling” – catat mikro‑tujuan harian. Alih-alih menulis “Latihan lebih keras”, tuliskan “Selesaikan 12 push‑up pada set pertama”. Rekam pencapaian tiap hari dalam aplikasi catatan sederhana. Data ini memberi gambaran progres nyata, sehingga anak belajar menilai diri secara objektif.
  • Rotasi peran dalam tim. Pada latihan basket, ganti posisi point guard menjadi forward secara periodik. Rotasi memaksa pemain menguasai strategi baru, mengasah adaptabilitas, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab atas keputusan tim. Hasilnya, anak tidak hanya disiplin dalam teknik, tetapi juga dalam kepemimpinan.
  • Penggunaan “visual cue” di ruang latihan. Tempelkan timer digital atau papan skor yang menampilkan countdown latihan. Ketika anak melihat waktu berjalan, ia belajar mengatur tempo sendiri tanpa harus diminta oleh pelatih setiap menit. Sebagai contoh, di klub sepak bola lokal saya, penambahan papan timer 5 menit mengurangi keterlambatan start latihan sebesar 30 %.
  • Latihan “mindful cool‑down”. Setelah sesi intens, alokasikan 5 menit untuk pernapasan dalam dan refleksi singkat. Anak diminta menuliskan satu hal yang berhasil dan satu hal yang masih kurang. Praktik ini menanamkan kebiasaan evaluasi diri—inti dari disiplin jangka panjang.
  • Integrasi teknologi wearable. Jam pintar atau gelang kebugaran dapat memantau detak jantung, kualitas tidur, dan intensitas latihan. Orang tua atau pelatih dapat mengatur notifikasi “jangan latihan bila HRV rendah”. Data real‑time membantu menghindari overtraining dan menjaga motivasi tetap tinggi.

Contoh nyata: Saya pernah membimbing seorang remaja bernama Rafi yang suka bersepeda. Dengan memberi Rafi sebuah gelang kebugaran, kami menetapkan target “HRV di atas 55 sebelum latihan”. Selama tiga bulan, Rafi belajar menyesuaikan jadwal belajar dan tidur agar mencapai target tersebut. Hasilnya, ia tidak hanya meningkatkan stamina, tetapi juga memperbaiki kebiasaan bangun pagi secara konsisten.

Jadi, ketika Anda merancang program olahraga untuk generasi muda, ingat bahwa Peran Olahraga dalam Membentuk Kedisiplinan Anak Muda terletak pada detail—bagaimana Anda mengatur tujuan mikro, memutar peran, dan memberi ruang bagi refleksi. Praktik‑praktik di atas memang terlihat sederhana, namun bila diterapkan secara konsisten, mereka menjadi fondasi kuat bagi kedisiplinan yang tahan lama.

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peran Lembaga Amil Zakat dalam Tanggap Darurat Bencana: Kolaborasi

    Peran Lembaga Amil Zakat dalam Tanggap Darurat Bencana: Kolaborasi

    • calendar_month Selasa, 29 Sep 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Lembaga amil zakat berperan sebagai penggerak cepat dana sosial, menyalurkan bantuan pangan, logistik, dan medis kepada korban bencana secara terkoordinasi dengan pemerintah dan relawan. Keahlian mereka dalam mengelola dana zakat memungkinkan bantuan tiba tepat waktu, mengurangi beban keluarga terdampak, serta mempercepat proses pemulihan komunitas. Lembaga Amil Zakat dapat menggerakkan dana zakat, infak, dan […]

  • Ilustrasi kolaborasi peneliti dan tokoh agama membangun kepercayaan melalui dialog terbuka dan rasa hormat.

    Peran Tokoh Agama dalam Menjaga Kondusivitas Masyarakat: Solusi Nyata

    • calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Tokoh agama berfungsi sebagai jembatan nilai moral dan norma sosial, sehingga dapat menenangkan ketegangan serta memicu dialog konstruktif antar kelompok. Dengan memberi contoh perilaku toleran dan menyampaikan pesan persatuan lewat khotbah atau pertemuan, mereka membantu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi keberagaman. Tokoh agama berperan sebagai penghubung nilai‑nilai moral dan dinamika sosial, sehingga mereka […]

  • Ciri-ciri Hubungan Toxic dan Cara Keluarnya yang Saya Pelajari dari Kasus Nyata

    Ciri-ciri Hubungan Toxic dan Cara Keluarnya yang Saya Pelajari dari Kasus Nyata

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Hubungan toxic ditandai dengan kontrol, kekerasan, dan emosi negatif. Umumnya, 80% korban mengalami penurunan kepercayaan diri. Cara keluarnya adalah dengan mengenali pola perilaku tersebut dan memutuskan hubungan. Ciri-ciri hubungan toxic dan cara keluarnya adalah topik yang sangat penting untuk dipahami, karena hubungan yang sehat adalah kunci bagi kebahagiaan dan keseimbangan hidup. Ciri-ciri hubungan […]

  • Panduan Membangun Tradisi Membaca Kitab di Keluarga: 3 Langkah Praktis

    Panduan Membangun Tradisi Membaca Kitab di Keluarga: 3 Langkah Praktis

    • calendar_month Sabtu, 3 Okt 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Menciptakan kebiasaan membaca kitab di rumah biasanya dimulai dengan menetapkan waktu khusus, misalnya sesaat sebelum tidur, dan melibatkan semua anggota keluarga secara konsisten. Pilih terjemahan yang mudah dipahami serta gunakan pendekatan diskusi ringan agar pesan kitab terasa relevan dalam kehidupan sehari‑hari. Dengan memberi contoh pribadi dan memuji partisipasi, tradisi ini dapat tumbuh menjadi […]

  • Strategi Penguatan Kesehatan Masyarakat Melalui PHBS: Insight Lapangan

    Strategi Penguatan Kesehatan Masyarakat Melalui PHBS: Insight Lapangan

    • calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Menguatkan kesehatan masyarakat lewat PHBS menitikberatkan pada edukasi perilaku bersih, penyediaan fasilitas sanitasi, serta pemantauan kepatuhan di tingkat komunitas. Dengan menggabungkan kampanye kebersihan, pelatihan higiene, dan kolaborasi lintas sektor, risiko penularan penyakit menular dapat ditekan secara signifikan. Strategi penguatan kesehatan masyarakat melalui PHBS memadukan intervensi perilaku, kebersihan, dan sanitasi yang memungkinkan komunitas menjaga […]

  • Kepala BMKG Sebut El Nino Sangat Kuat Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027

    Kepala BMKG Sebut El Nino Sangat Kuat Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027

    • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta. Pencerahnews.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino masih sangat kuat dan akan bertahan hingga awal 2027. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dinamika musim hujan Indonesia pada 2026–2027. “Anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik pada periode Juli, Agustus, September 2026 […]

expand_less