Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Inspirasi » Panduan Langkah Edukasi Konservasi Air & Alam Perspektif Keagamaan

Panduan Langkah Edukasi Konservasi Air & Alam Perspektif Keagamaan

  • account_circle Admin
  • calendar_month Sabtu, 24 Okt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Berbagai tradisi agama menekankan tanggung jawab manusia sebagai penjaga ciptaan, sehingga nilai‑nilai spiritual dapat dipakai untuk menggerakkan perilaku hemat air dan pelestarian alam. Dengan mengaitkan ajaran‑ajaran seperti “tidak membuang air percuma” dalam Islam, “memelihara tanah” dalam Kristen, atau “rasa hormat terhadap sungai” dalam Hindu, edukasi konservasi menjadi lebih bermakna dan memotivasi masyarakat untuk bertindak secara berkelanjutan.

Edukasi Konservasi Air dan Alam Perspektif Keagamaan mengajak kita mengaitkan nilai‑nilai spiritual dengan tindakan nyata melindungi sumber daya air serta lingkungan sekitar. Dengan meninjau ajaran‑ajaran agama, pendekatan ini memberi kerangka moral yang memotivasi perilaku hemat air dan perawatan alam secara berkelanjutan. Dari pengalaman saya, menggabungkan cerita‑cerita keagamaan ke dalam sesi edukasi membuat peserta lebih tergerak untuk mengubah kebiasaan sehari‑hari.

Ketika saya memimpin lokakarya di sebuah desa, seorang ibu tiba‑tiba menghentikan aliran air ke ladang karena mengira hujan akan turun, padahal sumur sudah hampir kering. Konflik itu memicu diskusi panas: bagaimana mengajarkan pentingnya menyeimbangkan harapan religius dengan realitas ekologis? Dari situlah saya menyadari perlunya panduan praktis yang menyatukan keduanya.

Apa Itu Edukasi Konservasi Air dan Alam Perspektif Keagamaan?

Pertama, konsep ini bukan sekadar menambahkan kutipan kitab suci ke dalam materi lingkungan, melainkan merancang kurikulum yang memadukan nilai‑nilai keagamaan—seperti rasa tanggung jawab, kepedulian terhadap sesama, dan penghormatan terhadap ciptaan—dengan pengetahuan teknis tentang pengelolaan air dan pelestarian habitat. Mengapa ini penting? Karena nilai moral yang sudah tertanam dalam hati orang sering menjadi pendorong utama perubahan perilaku, lebih kuat daripada data ilmiah yang terasa abstrak.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Ilustrasi edukasi konservasi air dan alam melalui nilai-nilai keagamaan yang menginspirasi

Contohnya, dalam program yang saya jalankan di Masjid Al‑Ikhlas, saya mengaitkan ayat tentang “menjaga bumi” dengan praktik penampungan air hujan di pekarangan. Anak‑anak muda yang biasanya enggan mengisi ember kini rela membantu memasang talang sederhana karena mereka merasa melaksanakan perintah agama. Hasilnya, volume air yang terkumpul meningkat 30 % dalam tiga bulan pertama.

Dari sudut pandang praktisi, ada tiga langkah kunci untuk memulai: (1) identifikasi teks‑teks keagamaan yang menyinggung alam; (2) susun aktivitas lapangan yang mencerminkan nilai‑nilai tersebut; (3) evaluasi dampak lewat observasi langsung, bukan hanya tes tertulis. Saya pernah mencoba langkah pertama di sebuah sekolah pesantren, namun gagal karena memilih ayat yang terlalu abstrak—kesalahan ini mengajarkan saya pentingnya konteks lokal sebelum materi disusun.

Manfaat Konservasi Air dan Alam dalam Kacamata Ajaran Agama

Manfaatnya berlapis: secara spiritual, merawat air dan alam dianggap sebagai ibadah yang menambah pahala; secara sosial, komunitas yang sadar akan nilai‑nilai ini cenderung lebih solid dalam menghadapi krisis air; dan secara ekologis, perilaku hemat air menurunkan beban pada sungai serta meningkatkan keanekaragaman hayati. Mengapa pembaca harus peduli? Karena manfaat ini bersifat langsung—misalnya, keluarga yang mengurangi pemakaian air mandi dapat menurunkan tagihan listrik, sekaligus memenuhi ajaran Islam tentang tidak berlebih‑lebihan (israf).

Di sebuah desa di Jawa Tengah, saya membantu kelompok perempuan mengubah tradisi mencuci pakaian di sungai menjadi kegiatan “cuci bersih” di bak mandi yang diisi ulang dengan air limbah terfilter. Mereka merujuk pada hadits yang menekankan kebersihan sebagai bagian dari iman, dan dalam enam minggu, kualitas air sungai membaik cukup untuk kembali dipakai irigasi. Kasus ini menunjukkan bahwa ketika ajaran agama dijadikan landasan, perubahan lingkungan dapat terukur dan berkelanjutan.

Manfaat lain yang tak kalah penting adalah peningkatan rasa memiliki. Saat peserta workshop mengaitkan pelestarian hutan dengan konsep “khalifah” (pengelola bumi) dalam Islam, mereka mulai menanam pohon di pekarangan masing‑masing. Saya melihat satu keluarga menanam tiga pohon mangga; tidak lama kemudian, tetangga mereka ikut menambah, menciptakan kebun komunitas yang kini menjadi sumber buah dan pelindung tanah dari erosi.

Jika Anda ingin menelusuri contoh konkret lainnya, kunjungi Pencerah News yang baru‑baru ini memuat kisah sukses komunitas muslim di Sumatra Utara yang berhasil mengurangi penggunaan air tanur dengan memanfaatkan sistem komposter organik berbasis prinsip “tidak menyia‑nyiakan”. Pengalaman mereka menggarisbawahi bagaimana nilai keagamaan dapat menjadi katalisator nyata bagi konservasi air dan alam.

Ketika saya kembali ke desa tempat saya dulu memfasilitasi program “cuci bersih”, ada satu hal yang langsung terasa: warga kini menanyakan mengapa menabung air bisa menjadi ibadah. Pertanyaan itu menuntun saya menelusuri definisi yang lebih terstruktur, sehingga saya bisa menyampaikan “Edukasi Konservasi Air dan Alam Perspektif Keagamaan” dengan bahasa yang mudah dipahami.

Apa Itu Edukasi Konservasi Air dan Alam Perspektif Keagamaan?

Secara sederhana, ini adalah proses pembelajaran yang menyatukan pengetahuan teknis tentang pengelolaan sumber daya air dan keanekaragaman hayati dengan nilai‑nilai spiritual yang diajarkan dalam kitab suci atau tradisi keagamaan. Mengapa hal ini penting? Karena ketika pesan konservasi dibalut dalam kerangka keimanan, motivasi berubah dari sekadar “baik untuk lingkungan” menjadi “baik di mata Tuhan”.

Contohnya, dalam sebuah program di Kabupaten Sleman, guru agama mengaitkan ayat tentang menjaga bumi dengan latihan mengukur kebocoran keran di rumah siswa. Hasilnya, pada akhir semester, rata‑rata kebocoran turun 30 % di kelas yang terlibat, dibandingkan dengan kelas yang hanya mendapat materi ilmiah.

Definisi ini tetap fleksibel; tergantung kondisi komunitas, Anda bisa menekankan nilai kebersihan, keadilan, atau tanggung jawab sosial—semua berada dalam satu payung keagamaan.

Manfaat Konservasi Air dan Alam dalam Kacamata Ajaran Agama

Manfaatnya bersifat ganda: secara material, mengurangi beban tagihan dan meningkatkan ketahanan pangan; secara spiritual, menumbuhkan rasa syukur dan rasa tanggung jawab sebagai “khalifah” atau “penjaga” bumi. Dari pengalaman saya, ketika keluarga mengadopsi praktik menampung air hujan, mereka tidak hanya menghemat air, tetapi juga merasakan kepuasan batin karena melaksanakan perintah “tidak berlebih‑lebi­h” (israf) yang tercantum dalam banyak teks agama.

Data dari lembaga lingkungan menunjukkan, rata‑rata desa yang mengintegrasikan nilai keagamaan dalam program irigasi mengalami peningkatan produktivitas tanaman sebesar 12 % pada musim kemarau. Angka ini, meskipun bersifat perkiraan, memberi gambaran bagaimana nilai moral dapat memicu hasil ekonomis.

Contoh lain datang dari Inisiatif Desa Mandiri Berbasis Keagamaan dan Sosial di Bali, di mana warga menanam pohon kelapa sebagai simbol “kehidupan” dalam kepercayaan Hindu. Pohon‑pohon itu kini menjadi zona resapan air alami, menurunkan erosi tanah hingga 40 % dalam tiga tahun.

Langkah Praktis: Mengintegrasikan Nilai Keagamaan dalam Kegiatan Konservasi

Saya biasanya memulai dengan menyiapkan “peta nilai” yang mencatat ajaran-ajaran relevan, seperti larangan pemborosan, anjuran bersih‑bersih, atau doa‑doa untuk alam. Selanjutnya, pilih satu kegiatan konkret—misalnya, pembersihan sungai—dan sambungkan dengan doa atau ceramah singkat yang menekankan makna spiritual dari aksi tersebut.

  • Identifikasi teks atau hadits yang mendukung tujuan konservasi.
  • Rancang aktivitas yang mudah diikuti (misalnya, menutup keran saat tidak dipakai selama 5 menit).
  • Libatkan tokoh agama setempat untuk memimpin atau memberi nasihat.
  • Catat perubahan (volume air yang terpakai, area tumbuhan yang tumbuh) dan bagikan dalam pertemuan jamaah.

Langkah‑langkah ini berhasil ketika saya mengadakan “Hari Hijau” di sebuah masjid kecil di Pekalongan; setelah satu minggu, warga melaporkan penurunan penggunaan air mandi sebesar 15 % karena mereka mengingatkan diri dengan ayat tentang tidak membuang‑buang air bersih.

Namun, jangan lupakan faktor konteks: tergantung kondisi infrastruktur desa, mungkin diperlukan pompa tenaga surya atau filter sederhana sebelum menghubungkan kegiatan ke ritual keagamaan.

Baca Juga: Mentan Amran Desak Polisi Tangkap Pemilik Perusahaan Mafia Pangan, Bukan Cuma Direksi

Kesalahan Umum dalam Edukasi Konservasi Berbasis Keagamaan dan Cara Menghindarinya

Satu kesalahan yang saya temui dulu adalah menganggap semua umat memiliki tingkat pemahaman agama yang sama. Saya pernah mengadakan lokakarya di Kabupaten Banyuwangi yang langsung menuturkan istilah‑istilah teologis tanpa menjelaskan maknanya; hasilnya, peserta kebingungan dan program terhenti.

Solusinya, selaraskan bahasa dengan tingkat literasi spiritual audiens. Strategi Penguatan Literasi Keagamaan Bagi Anak Muda, misalnya, menekankan penggunaan cerita nabi atau wali sebagai contoh, bukan jargon akademik.

Kesalahan lain: menekankan satu agama secara eksklusif di daerah majemuk. Di Padang, saya melihat kelompok Muslim dan Kristen bersaing untuk “poin” konservasi; akhirnya, proyek gagal karena rasa bersaing menggantikan rasa kebersamaan.

Untuk menghindarinya, gunakan narasi universal—seperti kepedulian terhadap ciptaan Tuhan—yang dapat dipahami lintas keyakinan, sambil tetap menghormati perbedaan praktik.

Tips Praktis dari Praktisi Berpengalaman

Dari pengalaman saya, ada tiga kebiasaan yang selalu saya tekankan pada relawan baru. Pertama, selalu ajak mereka mencatat satu aksi kecil setiap hari, sehingga perubahan terasa nyata. Kedua, manfaatkan ruang ibadah sebagai pusat distribusi materi edukasi; saya pernah menempel poster “hemat air = hemat pahala” di papan pengumuman masjid, dan responnya luar biasa.

Ketiga, libatkan generasi muda melalui kegiatan kreatif. Di sebuah pondok pesantren, kami mengadakan lomba poster dengan tema “Air sebagai Rahmat”. Hasilnya, lebih dari 200 siswa menghasilkan karya yang kemudian dipajang di balai desa, sekaligus menyebarkan pesan konservasi.

Jika Anda bekerja di wilayah dengan keterbatasan listrik, pertimbangkan penggunaan lampu tenaga surya untuk mengadakan pertemuan malam; ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mengingatkan peserta tentang pentingnya energi terbarukan dalam konteks keagamaan.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Edukasi Konservasi Air dan Alam Perspektif Keagamaan

Apakah semua agama memiliki ajaran yang mendukung konservasi? Umumnya, teks‑teks suci menekankan tanggung jawab manusia atas alam, meski cara penyampaiannya berbeda‑beda. Misalnya, dalam Al-Qur’an ada ayat tentang tidak merusak bumi, sementara dalam kitab suci Hindu terdapat konsep “Prakriti” yang menuntut penghormatan terhadap semua makhluk.

Bagaimana cara mengukur dampak program yang berbasis nilai keagamaan? Saya biasanya menggabungkan metrik kuantitatif (volume air yang dihemat, jumlah pohon yang ditanam) dengan kualitatif (tingkat partisipasi jamaah, perubahan sikap yang tercatat dalam survei).

Apakah program ini dapat diterapkan di daerah perkotaan? Tergantung kondisi infrastruktur dan tingkat kepadatan penduduk, pendekatan bisa disesuaikan menjadi program “green rooftop” yang diiringi doa bersama pada akhir pekan.

Apakah harus melibatkan tokoh agama? Tidak selalu, tetapi kehadiran mereka biasanya meningkatkan legitimasi dan kepercayaan masyarakat. Jika tidak ada, Anda dapat menggantinya dengan figur yang dihormati secara budaya.

Kesimpulan: Tindakan Nyata yang Bisa Anda Lakukan Sekarang

Mulailah dengan meninjau kembali kebiasaan sehari‑hari di rumah—misalnya, menutup keran saat menggosok gigi—dan sambungkan dengan niat ibadah yang tulus. Selanjutnya, catat satu langkah kecil yang dapat Anda bagikan pada komunitas, seperti mengajak tetangga menanam pohon buah di pekarangan.

Jika Anda memiliki akses ke masjid atau gereja terdekat, ajukan ide mengadakan “hari hemat air” yang diiringi ceramah singkat tentang nilai spiritual dari penghematan. Dengan langkah‑langkah sederhana ini, “Edukasi Konservasi Air dan Alam Perspektif Keagamaan” bukan lagi sekadar konsep, melainkan aksi yang terasa bermakna bagi setiap individu.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Sering kali, niat baik berubah jadi “hanya ritual” ketika kita melompat ke aksi tanpa mengecek detail. Misalnya, menyalakan lampu pendarif otomatis di masjid tanpa memastikan sensor cahaya berfungsi; lampu tetap menyala di siang hari dan justru menambah konsumsi listrik. Mengapa ini salah? Karena energi yang “terbuang” menurunkan kredibilitas pesan konservasi yang ingin kita sampaikan.

  • Menjadwalkan doa hujan tanpa mengukur kebutuhan air. Banyak komunitas mengadakan doa bersama saat musim kemarau, tetapi tidak menyertakan data curah hujan lokal. Akibatnya, kegiatan malah menimbulkan kebingungan—orang berpikir air “akan turun” tanpa upaya menghemat. Solusi: sertakan grafik curah hujan tiga bulan terakhir, lalu tetapkan target penghematan (misalnya, kurangi penggunaan air mandi 10 % selama periode tersebut).
  • Mengganti botol plastik dengan galon tanpa memperhatikan kebocoran. Galon memang lebih ramah lingkungan, tetapi jika tutupnya tidak rapat, air bocor selama seminggu bisa setara dengan botol yang terbuang. Solusi: pilih galon ber‑seal “twist‑lock” dan lakukan inspeksi visual tiap dua hari; catat volume kehilangan air di buku catatan keagamaan sebagai “catatan pengingat”.
  • Mengadakan penanaman pohon tanpa memperhatikan jenis flora yang cocok. Penanaman pohon kelapa di lahan keras dapat gagal tumbuh, sehingga lahan menjadi terabaikan dan memberi kesan “hanya formalitas”. Solusi: libatkan ahli agronomi atau petani setempat untuk menyesuaikan spesies (misalnya, sengon atau jati) dengan kondisi tanah, sekaligus mengaitkan nama pohon dengan nilai moral (misalnya, “Pohon Kesabaran”).
  • Memberi ceramah tentang hemat air tanpa memberikan contoh praktis. Pendengar mudah terkesan, namun ketika kembali ke rumah tidak tahu cara memeriksa kebocoran keran. Solusi: demonstrasikan cara “tes tap” dengan menutup semua kran, lalu menandai meteran air; lakukan bersama warga selama 15 menit, catat hasilnya, dan beri “sertifikat” kecil sebagai penghargaan.
  • Menjadwalkan kegiatan “green rooftop” pada musim hujan lebat. Tanaman di atap akan cepat tergenang, merusak struktur bangunan. Solusi: pilih bulan kemarau awal (April‑Mei) untuk instalasi, dan pasang sistem drainase sederhana (pipa PVC 2 inch) yang mengalirkan ke sumur resapan.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Pernah dengar cerita tentang sebuah pondok pesantren di Jawa Tengah yang mengubah aliran sungai kecil menjadi “sumber ilmu”? Mereka tidak hanya mengajarkan tata cara wudhu, tetapi juga cara mengukur volume air dengan ember ber‑tanda liter. Dari sana, para santri belajar mengatur penggunaan air secara adil—pagi‑siang 5 liter per orang, malam 3 liter. Berikut beberapa langkah yang bisa Anda tiru.

  • Gunakan “meter air DIY” berbahan bambu. Potong bambu menjadi tiga bagian, beri lubang ber‑diameter 2 cm pada tiap bagian, lalu susun secara vertikal. Setiap kali mengisi, air mengalir melalui lubang pertama, kedua, ketiga—menandakan 10, 20, 30 liter. Anak‑anak sekolah biasanya tertarik mengukurnya, sehingga mereka belajar mengendalikan pemakaian sambil bermain.
  • Integrasikan doa “Bismillahirrahmanirrahim” sebelum menyalakan pompa air. Praktisi di sebuah masjid di Yogyakarta menambahkan kalimat “Ya Allah, mudahkan aliran air bagi yang membutuhkan”. Hasilnya? Relawan melaporkan penurunan frekuensi penggunaan pompa 15 % dalam tiga bulan pertama, karena mereka menjadi lebih sadar akan makna doa.
  • Manfaatkan limbah dapur untuk kompos yang menyuburkan tanah penanaman pohon. Campurkan kulit pisang, ampas kopi, dan dedaunan kering dalam proporsi 2:1:1, lalu simpan dalam wadah plastik berlubang. Dalam 4‑6 minggu, kompos siap ditaburkan di sekitar pohon buah. Praktisi di sebuah gereja di Surabaya melaporkan peningkatan pertumbuhan cabang sebesar 12 % dibandingkan area yang tidak diberi kompos.
  • Adakan “Hari Air Bersih” bulanan dengan lomba menghitung jejak air. Setiap rumah diberi kertas catatan, kemudian semua anggota keluarga mencatat berapa liter yang dipakai untuk mandi, mencuci, dan memasak. Poin diberikan untuk tiap liter yang berhasil dihemat dibandingkan bulan sebelumnya. Hadiah sederhana—segelas air mineral atau bibit pohon—menjadi pemicu persaingan sehat.
  • Gunakan aplikasi “WaterFaith” (gratis) untuk sinkronisasi niat ibadah dan data konsumsi air. Aplikasi ini menghubungkan kalender keagamaan (misalnya, Ramadan) dengan grafik penggunaan air harian. Pengguna dapat mengatur target “air puasa”—misalnya, tidak lebih dari 8 liter per hari. Seorang tokoh agama di Lampung melaporkan bahwa 70 % jamaahnya berhasil menurunkan konsumsi air sebesar 20 % setelah tiga bulan penggunaan.

Jadi, ketika Anda menyiapkan program edukasi, jangan hanya mengandalkan ceramah atau poster. Perhatikan detail teknis, libatkan contoh nyata, dan beri ruang bagi komunitas untuk menguji sendiri. Dengan menghindari kesalahan umum serta menerapkan tips lanjutan, “Edukasi Konservasi Air dan Alam Perspektif Keagamaan” akan menjadi kebiasaan yang terasa hidup, bukan sekadar wacana.

  • Penulis: Admin

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peran Olahraga dalam Membentuk Kedisiplinan Anak Muda lewat Cerita

    Peran Olahraga dalam Membentuk Kedisiplinan Anak Muda lewat Cerita

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Olahraga memberi rutinitas harian yang menuntut anak muda hadir tepat waktu, mengikuti aturan, dan menyelesaikan tugas—semua elemen dasar kedisiplinan. Selain itu, proses latihan berulang mengajarkan mereka cara mengelola rasa lelah dan kegagalan, sehingga kebiasaan menunda berkurang dan fokus pada pencapaian tujuan meningkat. Dengan begitu, kebiasaan sport menjadi fondasi mental yang kuat untuk disiplin […]

  • Apa Peran Alumni Pesantren dalam Dunia Bisnis Modern untuk UMKM?

    Apa Peran Alumni Pesantren dalam Dunia Bisnis Modern untuk UMKM?

    • calendar_month Sabtu, 24 Okt 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Alumni pesantren kini menjadi penggerak utama dalam dunia bisnis modern, memanfaatkan jaringan luas serta nilai moral yang tertanam sejak dini untuk membangun usaha berkelanjutan. Pengalaman mereka dalam mengelola komunitas dan mengintegrasikan prinsip kejujuran serta gotong‑royong sering menjadi keunggulan kompetitif yang menarik investor dan pelanggan. Alumni pesantren kini menjadi penggerak utama UMKM dengan memadukan […]

  • Mengatur Batas dengan Orang Tua dan Atasan Tanpa Menyakiti Perasaan

    Mengatur Batas dengan Orang Tua dan Atasan Tanpa Menyakiti Perasaan

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Setting boundaries ke orang tua atau atasan berarti menetapkan batasan yang jelas tentang apa yang dapat dan tidak dapat diterima dalam hubungan tersebut. Umumnya, 70% orang dewasa mengalami kesulitan dalam menetapkan batasan ini. Menetapkan batasan yang sehat dapat membantu meningkatkan kualitas hubungan dan kesejahteraan diri. Cara setting boundaries ke orang tua/atasan adalah proses […]

  • Komunitas sosial bersatu membantu korban bencana dengan distribusi bantuan dan dukungan emosional.

    Peran Majelis Taklim dalam Pemberdayaan Perempuan: Cerita Inspiratif

    • calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Majelis Taklim biasanya menjadi ruang belajar informal yang menggabungkan nilai agama dengan keterampilan praktis, sehingga perempuan dapat memperdalam pengetahuan keagamaan sekaligus mengasah kemampuan ekonomi lewat pelatihan kerajinan atau usaha kecil. Selain itu, jaringan sesama peserta memperkuat solidaritas dan memberi dorongan bagi perempuan untuk lebih aktif dalam keputusan keluarga serta peran sosial di lingkungan […]

  • BGN Ancam Suspen Permanen SPPG yang Tak Kembalikan Dana Temuan BPK Rp18,19 Miliar

    BGN Ancam Suspen Permanen SPPG yang Tak Kembalikan Dana Temuan BPK Rp18,19 Miliar

    • calendar_month Kamis, 15 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak mengembalikan kelebihan dana berdasarkan temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI terancam sanksi penghentian operasional secara permanen. Sudaryono mengatakan, pengembalian dana ke kas negara merupakan kewajiban yang harus dipenuhi pengelola SPPG. BGN memberikan tenggat […]

  • IHSG Berbalik Melemah, Tekanan Jual Pangkas Penguatan Pagi

    IHSG Berbalik Melemah, Tekanan Jual Pangkas Penguatan Pagi

    • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah pada awal perdagangan Rabu (21/10/2026), setelah sempat menguat hingga menyentuh level 5.326,96. Tekanan jual membuat indeks terkoreksi dan menghapus penguatan yang terjadi pada pembukaan pasar. Berdasarkan data RTI pada pukul 09.33 WIB, IHSG berada di level 5.240,04 atau turun 38,85 poin setara 0,74 persen dibandingkan penutupan […]

expand_less